Kamis, 05 Februari 2015

Permainan Tradisional Melayu : BACK TO THE FUTURE


Gasing
Gasing adalah sejenis permainan rakyat yang digemari dan paling banyak dimainkan oleh masyarakat Melayu, baik tua atau muda. Permainan gasing ini telah ada dalam kehidupan masyarakat Melayu jauh sebelum masa penjajahan Belanda. Masyarakat Melayu bahkan rutin memainkan dan membuat kompetisi gasing. Baik secara beregu atau perorangan.

Gasing biasanya dibuat dari kayu bakau yang sudah tua. Hal ini ditujukan agar gasing benar-benar kuat, karena dalam masyarakat Melayu Kepulauan Riau terdapat 2 jenis permainan gasing. Yaitu Pangkah Gasing dan Gasing Uri. Pangkah Gasing adalah permainan adu kuat gasing yang sengaja saling dibenturkan, dan Gasing Uri adalah permainan adu lama perputaran gasing.
Gasing yang banyak dimainkan oleh masyarakat Melayu memiliki berbagai macam bentuk dan nama sesuai dengan bentuk dan jenis permainannya. Gasing yang biasa dimainkan masyarakat Melayu Kepulauan Riau adalah sebagai berikut :
  1. Gasing Berembang
  2. Gasing Payung
  3. Gasing Leper
  4. Gasing Botol
  5. Gasing Jantung.

Canang
Canang adalah permainan rakyat Melayu di Kepulauan Riau, yang di daerah lain disebut juga dengan Patok Lele atau Tuk Lele. Permainan Canang sangat sederhana, karena hanya membutuhkan dua batang kayu seukuran jari orang dewasa yang berbeda ukuran panjangnya. Kayu dengan ukuran panjang disebut dengan “induk” dan kayu yang lebih pendek disebut dengan “anak”.
Meski dapat dimainkan secara perorangan, namun biasanya canang dimainkan secara beregu. Untuk mengurangi bahaya permainan, biasanya canang dimainkan di tanah lapang. Canang dimainkan dengan membuat lubang kecil dengan panjang sekitar satu jengkal di pusat permainan, dan garis melintang yang disebut dengan garis benteng.
Teknis permainan sederhana yang biasa dimainkan dalam masyarakat Melayu Tanjungpinang adalah :
Mencuit, yaitu “anak” canang dilintangkan pada lubang lalu dicuit dengan “induk” canang. Pihak lawan yang menjaga di belakang garis benteng dapat menangkap “anak” canang tersebut dan menancapkannya di garis benteng.
Nyanang, yaitu “anak” canang dilambungkan dan dipukul dengan “induk” canang. Jika “anak” canang berhasil ditangkap, penjaga memiliki nilai 1.
Ngidup Api, yaitu “anak” canang disandarkan sekitar 30 derajat pada lubang canang. Kemudian “anak” canang dipukul sedikit dengan “induk” canang hingga melenting dan lentingan “anak” canang itu kemudian dipukul dengan “induk” canang. Ngidup Api dinilai gagal jika “anak” canang tidak melewati garis benteng.


Sumber: http://disparekraf.tanjungpinangkota.go.id/permainan-rakyat-melayu.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar